Musik Indonesia kini sedang berada pada persimpangan besar. Bukan lagi hanya soal genre atau distribusi digital, melainkan munculnya teknologi AI music generator yang mengubah wajah industri. Dengan kecerdasan buatan, siapa pun—bahkan tanpa latar belakang musikal—bisa menciptakan lagu hanya dengan menyusun prompt atau instruksi teks yang tepat.
Fenomena ini bukan sekadar tren kecil. Ia seperti gelombang besar yang menggeser cara musik diciptakan, didistribusikan, bahkan dikonsumsi.

Semua Bisa Jadi Pencipta Lagu
Dulu, butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasai instrumen atau teori musik agar bisa menciptakan karya orisinal. Kini, dengan bantuan AI, seorang pelajar atau bahkan pekerja kantoran yang tidak pernah belajar musik bisa menghasilkan komposisi yang terdengar layaknya karya profesional.
Kuncinya ada pada pemahaman prompt. Struktur bahasa yang jelas, detail, dan terarah bisa membuat hasil musik AI terdengar sangat berbeda. Misalnya, jika seseorang menuliskan:
- “Indie pop mellow dengan sentuhan gitar akustik dan vokal rendah”
atau - “Epic orchestral, tempo lambat, dengan nuansa melankolis dan sentuhan flute”
AI akan menerjemahkannya menjadi karya musik lengkap, dengan harmoni, melodi, bahkan nuansa emosional yang sesuai.
“Mengutip dari Candra Haksono Tata, seorang senior digital marketing dan AI enthusiast, pemahaman struktur prompt ini bisa disamakan dengan memberi arahan kepada seorang produser musik. Bedanya, produser ini adalah mesin yang bisa bekerja dalam hitungan detik.”
Antara Kreativitas dan Keaslian
Pertanyaan besar muncul: apakah musik yang dihasilkan AI masih bisa disebut original? Bagaimana posisi musisi manusia jika teknologi bisa melakukan hal yang sama?
Sebagian orang melihat ini sebagai ancaman, karena karya musisi bisa “ditiru” tanpa proses panjang. Namun banyak pula yang melihat AI sebagai alat baru, bukan pengganti. Musisi tetap bisa menaruh identitas dan emosinya, sementara AI membantu mempercepat proses produksi.
The Economic Times mencatat bahwa AI dalam musik justru bisa membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi mereka yang ingin menghasilkan karya cepat untuk iklan, film, atau konten digital.
“Kata Candra Haksono, tantangan bukan hanya soal keaslian, melainkan bagaimana kita memposisikan AI sebagai kolaborator, bukan pesaing. Di sinilah etika dan transparansi menjadi kunci—apakah sebuah lagu akan diberi label AI generated atau tidak.”

Dampak Ekonomi: Musik AI dan Penjualan
Fenomena ini tidak hanya mengubah cara berkarya, tapi juga cara menjual musik. Dengan produksi yang lebih cepat dan murah, pelaku bisnis bisa menghadirkan ratusan variasi musik untuk kebutuhan berbeda—dari konten media sosial, iklan televisi, hingga soundtrack film.
Menurut Pew Research Center, generasi muda cenderung lebih peduli pada akses ketimbang kepemilikan. Mereka ingin musik baru setiap saat, dan AI mampu memenuhi kebutuhan itu.
“Candra Haksono mengatakan dalam wawancara via Zoom, AI justru bisa mendongkrak penjualan. Bayangkan brand yang butuh musik unik untuk kampanye: mereka bisa menghasilkan ratusan opsi hanya dengan menyesuaikan prompt. Dari situ, peluang bisnis baru terbuka lebar, baik untuk musisi maupun industri kreatif.”.
Dengan kata lain, AI tidak hanya mengubah seni, tapi juga strategi pemasaran. Musik yang dulunya lahir dari proses panjang kini bisa diproduksi secara massal, cepat, dan tetap relevan. Tinggal dari sisi mana kita melihatnya, apakah ini sebuah ancaman atau solusi.
Lalu bagaimana dari sisi musisi sendiri ?, “Ya musisi juga harusnya terbantu dengan adanya AI music, karena dapat menghasilkan ide ide liar yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya, suka tidak suka AI music sudah hadir saat ini”. lanjut Candra Haksono
Langkah Berikutnya
Apakah ini berarti masa depan musik akan sepenuhnya dikuasai AI? Belum tentu. Teknologi hanyalah alat. Esensi musik sebagai medium emosi dan identitas manusia tidak bisa digantikan sepenuhnya.
Namun jelas, generasi baru kini punya akses yang lebih luas untuk berkarya. Musik tidak lagi jadi “privilege” musisi saja, melainkan ruang terbuka bagi siapa pun yang mau bereksperimen.
Pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah AI akan mengubah musik, tapi bagaimana kita—pendengar, musisi, dan industri—mau beradaptasi. Mau beradaptasi atau punah termakan zaman.
Baca Juga : Lagu Indonesia Terbaru, Trend dan Fenomena Viral musik
